Andinsekar's Blog

Just another WordPress.com weblog

Makalah Pengaruh Kemiskinan Terhadap Perkembangan Anak May 10, 2010

Filed under: Uncategorized — andinsekar @ 1:52 pm

Anak-Anak dalam Kemiskinan

Kaitan kemiskinan dengan meningkatnya angka pekerja anak usia dini di Indonesia

Oleh    : Andini Sekar Pamungkas

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

Abstraksi

Kemiskinan  di Indonesia berdampak pada perubahan kehidupan anak. Peran anak dalam kelurga miskin bukan hanya menjaga nama baik keluarga tetapi mereka juga ikut mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga miskin tersebut. Dampak negatif yang ditimbulkan pada diri pekerja anak usia dini ini berupa terhambatnya perkembangan fisik, mental dan terutama pada intelektual mereka, karena menurut studi literatur yang dilakukan di Indonesia, terbukti sebagian anak yang bekerja terpaksa putus sekolah.

Abstract

Poverty in Indonesia have an impact on changing a child’s life. The role of children in poor families not only keep the family name but they also earn a living to meet the needs of poor families are living. Negative impact on self-generated early childhood workers are in the form of impaired physical, mental, and particularly in their intellectual, because according to the literature study in Indonesia carried out proved that some children had to drop out of school to work.

Ringkasan

Kemiskinan yang terjadi di Indonesia mengarah kepada kesulitan masyarakatnya dalam memenuhi kebutuhan primer mereka dan juga kesulitan mereka dalam mendapatkan kehidupan yang layak. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia tidak hanya memberikan dampak negatif pada orang dewasa saja, tapi juga anak-anak. Dampak yang terjadi pada anak justru lebih berbahaya daripada yang ditimbulkan pada orang tua, karena pada anak dampak tersebut menyebabkan  kerusakan jangka panjang. Hak mereka untuk memperoleh pendidkan dan masa kecil yang bahagia, berkualitas dan yang layak didapatkan oleh anak-anak dirampas. Kemiskinan yang membelit keluarga mereka membuat peran mereka dalam keluargapun bergeser, mereka juga ikut berperan dalam memenuhi nafkah keluarga. Fenomena anak-anak usia dini yang bekerja di Indonesia juga berpengaruh pada jumlah anak-anak yang putus sekolah. Hal ini dikarenakan sebagian besar dari anak-anak yang bekerja tersebut terpaksa putus sekolah dengan berbagai alasan. Fakta tersebut sangat memprihatinkan, mengingat merekalah penerus bangsa ini nantinya. Oleh karena itu pemerintah bersama beberapa pihak, berusaha menaggulangi masalah ini dengan mengadakan beberapa program-program  seperti,PKH, BOS, sekolah rakyat dan program orang tua asuh. Seluruh program ini bertujuan untuk mencapai Indonesia yang lebih baik lagi.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penulisan

Kemiskinan seakan menjadi sebuah kata yang akrab di telinga bangsa Indonesia. Dahulu, selalu dikatakan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya makmur, gemah ripah Loh Jinawi. Bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang amat besar tidaklah salah, tetapi kekayaan sumberdaya itu tidak dibarengi dengan kayanya kualitas dari sumberdaya manusianya. Kita, sebagai bangsa Indonesia selama ini tidak tahu bagaimana memanfaatkan sumberdaya dengan baik.  Kemiskinan yang terjadi Indonesia lebih mengacu kepada keadaan berupa kekurangan hal-hal yang berkaitan terhadap pemenuhan kebutuhan yang bersifat primer, seperti sandang, pangan dan papan. Masalah kemiskinan ini mempengaruhi banyak hal, pengangguran, kriminalitas, dan yang tidak kalah penting kemiskinan berdampak pada perampasan hak-hak anak. Bukan hal baru lagi jika kita melihat anak-anak usia sekolah atau bahkan usia prasekolah harus berjuang hidup di jalan-jalan protokol di Indonesia. Tidak jarang diantara anak-anak tersebut terpaksa putus sekolah. Semua itu mereka lakukan atas alasan ekonomi, demi membantu orang tua mereka. Hal ini sangatlah memprihatinkan, karena kemiskinan yang menimpa anak-anak akan menyebabkan kerusakan jangka panjang terhadap perkembangan anak-anak itu sendiri. Kemiskinan akan terus berlanjut ketika mereka beranjak dewasa yang terjebak dalam mata rantai kemiskinan, sehingga mereka tidak mampu memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, dan menyebabkan anak-anak mereka bernasib sama dengan mereka.


1.2 Perumusan masalah

Adapun masalah-masalah yang akan dibahas nantinya dalam makalah ini adalah :

  1. Kemiskinan seperti apa yang terjadi di Indonesia dan apa penyebabnya?
  2. Seberapa besarkah pengaruh kemiskinan terhadap kehidupan anak usia dini di Indonesia?
  3. Apa saja yang program-program dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari tulisan ini adalah agar kita mengetahui apa saja dampak yang ditimbulkan dari kemiskinan yang melanda Indonesia terhadap kehidupan anak usia dini di Indonesia. Selain itu juga dapat dilihat dampak negatif yang ditimbulkan pada pekerja anak usia dini.

Adapun manfaat yang nantinya didapat dari penelitian ini adalah:

  • Kita menjadi tahu seberapa besar kemiskinan mempengaruhi kehidupan anak di Indonesia, terutama anak-anak di usia dini.
  • Timbul empati dari diri kita semua.
  • Timbulnya kesadaran yang bisa menggerakan kita untuk juga ikut memikirkan masalah kemiskinan ini

BAB II

PEMBAHASAN

2.1Kemiskinan di Indonesia.

Sejak awal kemerdekaan, Indonesia mempunyai perhatian besar demi terciptanya masyarakat adil dan makmur. Berbagai program pembangunan telah dilakukan untuk memberantas kemiskinan sehingga terciptanya kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian masalah kemiskinan hingga saat ini masih menjadi masalah yang berkepanjangan. Terbukti dari tingginya angka kemiskinan di Indonesia yang dikeluarkan oleh  Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 1976 jumlah penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan adalah sebesar 54 juta (40 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia). (UNICEF, 1989).[1]

“              Kemiskinan pada umumya disebkan oleh dua hal utama yaitu: (i) market failure dan (ii) political failure. Market failure terjadi apabila sebagian besar kelompk miskin termasuk angkatan kerja (labour force) memperoleh upah yang tidak mencukupi kebutuhan dasar (sandang, pangan, kesehatan, pendidikan) mereka. Adapun political failure terjadi apabila struktur politik ekonomi yang ada telah menyebabkan distorsi dalam penyampaian kepentingan kelompok miskin. Kombinasi keduanya akan lebih memperparah keadaan dan lebih mempersempitruang gerak untuk mengatasi masalah kemiskinan ini.”(Agus Pakpahan dkk dalam Hermanto dkk, 1995)[2]

Perhatian pemerintah terhadap masalah kemiskinan lebih besar lagi setelah terjadinya krisis ekonomi pada tahun1997. Namun usaha itu tidak sepenuhnya berhasil, masih banyak kelurga-keluarga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan pada tahun 2001, berdasarkan data yang dikeluarakan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), persentase jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat menjadi 52,07 persen, atau lebih dari separuh jumlah kelurga di Indonesia.[3] Angka kemiskinan sebenarnya tidak selalu meningkat, terkadang angka kemiskinan di Indonesia terlihat menurun,contohnya pada tahun 2007 Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) DALAM Winsolu, 2008, terjadi penurunan jumlah masyarakat miskin di Indonesia, dari 39,30 juta tahun 2006 menjadi 37,17 juta tahun 2007.[4] Artinya, terjadi pengurangan 2,13 juta  penduduk miskin di Indonesia.(Winsolu,2008).[5] Penurunan tersebut dapat di lihat pada tabel 2.1 berikut.

Tabel 2.1

Tahun Jumlah Penduduk Miskin Di Indonesia (Juta)
1996 34,02
1998 49,50
1999 47,97
2000 38,70
2001 37,90
2002 38,40
2003 37,30
2004 36,10
2005 35,10
2006 39,30
2007 37,17
2008 34,9

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), diolah dari data survei sosial ekonomi nasional

Apabila data yang dikeluarkan oleh BPS tersebut akurat, maka kita perlu mengakui keberhasilan pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat ini. Namun sejauh ini, keberhasilan tersebut hanya terlihat dalam bentuk angka bukan fakta. Banyak pihak yang menyangsikan kebenaran data tersebut. Hal ini dirasa wajar karena memang belum ada argumen yang jelas tentang data tersebut. Selama ini angka penduduk miskin di Indonesia dipengaruhi oleh kenaikan harga barang-barang pokok, kenaikan upah pegawai atau meningkatnya pengangguran. Jika data tersebut merujuk pada faktor diatas maka semestinya angka kemiskinanpun ikut meningkat, karena menurut perhitungan yang juga dilakukan oleh BPS, “Harga makanan tercatat meningkat sekitar 14 persen (Maret 2006-Februari 2007). Sementara pada saat sama, laju inflasi umum sebesar 7,87 persen. Maka, dengan logika yang sama dengan tahun sebelumnya, angka kemiskinan penduduk seharusnya juga meningkat atau setidaknya tetap, pada kurun 2006-2007.” (Winsolu,2008)

Terlepas dari perdebatan mengenai keakuratan data tersebut, harus diakui memang sampai saat ini masalah kemiskinan masih membayangi bangsa ini.


2.2 Kemiskinan berdampak pada perampasan hak-hak anak.

2.2.1 Hubungan antara kemiskinan dan kehidupan anak.

Lahir dan hidup menjadi miskin pasti bukan mimpi siapapun. Namun, pada kenyataannya status miskin hampir disandang oleh setengah penduduk Indonesia.  Berkaca pada keadaan yang terjadi saat ini dimana harga untuk memenuhi kebutuhan hidup terus meningkat, hal ini diperparah dengan sulitnya seseorang mendapat pekerjaan. Ironisnya tidak hanya orang dewasa yang merasakan dampak dari kemiskinan ini, anak-anak pun ikut merasakan dampak minimnya dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar di keluarga mereka. Kemiskinan yang melanda orang tua mereka akan berpengaruh besar pada kehidupan mereka. Hak-hak mereka terampas. Mereka yang seharusnya mendapatkan pendidikan layak dan masa kecil yang bahagia, terpaksa harus berkorban demi satu alasan, ekonomi

2.2.2 Faktor-faktor yang menyebabkan perampasan hak pada anak usia dini.

Sudah bukan hal baru lagi jika kita melihat di jalan-jalan kota-kota besar anak-anak usia sekolah atau bahkan prasekolah yang masih tergolong anak usia dini bekerja demi bertahan hidup. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang putus sekolah. Berdasarkan data yang dikeluarkan Unicef pada tahun 1995, jumlah anak dibawah lima tahun yang hidup diperkotaan sebesar lima juta jiwa.[6] Dari data tingkat pendidikan anak yang dikeluarkan oleh Bapennas, tercatat 81 juta anak tidak bersekolah, bahkan yang lebih memprihatinkan lagi  31, 5 juta anak di atas 9 tahun buta huruf.[7] Menurut Daliyo dkk (1999), persentase anak-anak yang bekerja pun semakin meningkat dari tahun ke tahun.(tabel 2.2). Faktor utama yang menyebabkan fenomena pada pekerja anak usia dini ini adalah ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan di 12 kota besar pada 2003, ada 147 ribu anak jalanan dengan 60 persen dari mereka sudah putus sekolah dan 40 persen masih bersekolah. Penelitian itu juga mengungkapkan alasan – alasan anak tersebut terjun ke jalanan. Tercatat 71 persen melakukan itu untuk membantu orang tua bekerja, 6 persen dipaksa untuk membantu orang tua, dan 15 persen untuk memenuhi biaya pendidikan mereka.

Tabel 2.2

Region / Sex Looking for Job
1980 1990 1995
Indonesia 0.3 0,9 1,4
Urban

Male

Female

0,2 0,9 1,0
0,2 1,0 1,0
0,2 0,7 1,1
Rural

Male

Female

0,4 0,9 1,7
0,4 1,0 1,5
0,4 0,8 1,9

Sumber: BPS 1983, 1992,1996 population of Indonesia dalam Child Labour and Education Planning In Nusa Tenggara Barat and Nusa Tenggara Timur

Ironis memang jika kita melihat pemaparan data tersebut. Disaat seharusnya negara menjamin hak-hak anak yang tercantum dalam keputusan dari konvensi PBB mengenai hak-hak anak pada tahun 1989 dimana seharusnya mereka mendapat kehidupan yang layak, jauh dari kata eksploitasi.

“Berdasarkan Konvensi PBB mengenai Hak-Hak Anak tahun 1989, ada sejumlah hak anak yang seharusnya bisa dijamin dan dipenuhi oleh Negara, yakni setiap anak memiliki hak untuk dilahirkan, untuk memiliki nama dan kewarganegaraan, untuk memiliki keluarga yang menyayangi dan mengasihi, untuk hidup dalam komunitas yang aman, damai dan lingkungan yang sehat untuk mendapatkan makanan yang cukup dan tubuh yang sehat dan aktif, untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan mengembangkan potensinya untuk diberikan kesempatan bermain waktu santai, untuk dilindungi dari penyiksaan, eksploitasi, kekerasan dan dari bahaya. Mereka juga berhak untuk dipertahankan dan diberikan bantuan oleh pemerintah dan hak untuk bias mengekpresikan pendapat sendiri.”  (Abidin,2008)[8]

2.2.3 Dampak yang ditimbulkan pada pekerja anak usia dini.

Kemiskinan pada pekerja anak usia dini berdampak negatif  pada kondisi fisik, mental dan intelektual mereka. Usia dini yang dimaksud disini adalah golongan umur kurang dari lima tahun hingga 16 tahun.

Dampak negatif utama yang ditimbulkan adalah pada intelektual mereka.  Beberapa penelitian menyatakan bahwa tenaga kerja anak umumnya tidak lagi sekolah atau bahkan tidak pernah sekolah dengan alasan tidak mampu sehingga mereka harus mencari nafkah demi membantu keluarga. Dikarenkan hal tersebut, anak yang bekerja memiliki tingkat kecerdasan yang tergolong di bawah rata-rata dan terbelakang (IQ kurang dari 70).[9]

Walupun tidak sepenuhnya berpengaruh, kemiskinan juga dapat menyebabkan terlambatnya pertumbuhan fisik dan kemungkinan juga mengalami penyalahgunaan fisik akibat tekanan yang dilakukan oleh orang tuanya atau pihak-pihak lain yang memang sengaja ingin mengeksploitasi mereka. Kerasnya hidup yang harus mereka jalani menyebabkan mereka matang sebelum waktunya. Dampak negatif pada pertumbuhan fisiknya juga berkaitan dengan kemiskinan yang mereka derita. Salah satu masalah yang paling sering menimpa anak-anak dalam keluarga miskin adalah kekurangan gizi. Bahkan tidak jarang kekurangan gizi ini  beujung pada kematian.

Beban yang begitu besar diberikan pada mereka dalam usia yang masihsangat muda juga sangat berpengaruh pada kondisi psikologi mereka. Terkadang masalah tersebut membuat mereka menjadi rendah diri dalam bergaul di lingkungan sosial mereka. Waktu yang mereka miliki untuk bermain dan bersosialisasi dengan anak seusia merekapun berkurang karena kewajiban baru yang mereka miliki, mencari nafkah.


2.3. Program-program berkaitan masalah anak-anak dalam kemiskinan.

Sebetulnya sudah cukup banyak program-program yang dilakukukan pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan yang mengancam anak-anak. Dua program itu adalah Program Keluarga Harapan (PKH) dan pemberian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).(Abidin)[10] Pada PKH, rumah tangga miskin diberi uang tunai (sama dengan program BLT), tapi dalam PKH ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu uang tunai tersebut hanya diberikan jika anak-anak usia sekolah dalam keluarga tersebut benar-benar masih bersekolah. Sasaran PKH cukup jelas, yaitu agar anak-anak usia sekolah dari keluarga miskin terjamin haknya untuk memperoleh pendidikan sampai sekolah menengah atas. Dengan pendidikan yang memadai diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan yang terjadi pada orang tua dan keluarganya sehingga tidak berlanjut ke anak-anak generasi berikutnya.

Berbeda dengan PKH yang bentuk bantuannya berupa uang tunai, dana BOS adalah keringanan atau pembebasan total dari uang sekolah, uang buku pelajaran dan sebagainya. Dengan dana BOS seharusnya sekolah-sekolah negeri tingkat SD dan SLTP bisa menerapkan pendidikan gratis.  Selain BOS dan PKH, terdapat juga program-program lain seperti Gerakan Orang Tua Asuh ( GNOTA), dan masih banyak gerakan-gerakan lainnya yang dilakukan baik oleh pemerintah atupun pihak-pihak diluar pemerintah.

Sayangnya, program-program tersebut belum dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Masih banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan program tersebut. Walaupun banyak penyimpangan yang terjadi, keberadaan program tersebut masih sangat diharapkan oleh masyarakat untuk  menanggulangi masalah kemiskinan di Indonesia, sehingga juga dapat mengurangi bahkan menuntaskan jumlah anak-anak yang putus sekolah demi mencari nafkah bagi keluarganya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kemiskinan yang terjadi di Indonesia dilihat dari  keadaan masyarakatnya  dalam memenuhi kebutuhan yang bersifat primer, seperti sandang, pangan dan papan.  Kebutuhan hidup yang semakin banyak, harga-harga yang terus melonjak diperparah dengan sulitnya mendapat pekerjaan dan upah yang didapatpun tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan  menjadi penyebab utama kemiskinan di Indonesia.  Ironisnya, anak-anak pun ikut merasakan dampak dari kemiskinan ini. Demi membantu memenuhi nafkah keluarga, banyak anak-anak pada usia sekolah atau bahkan usia prasekolah yang rela mengorbankan masa kecil mereka untuk bekerja. Bahkan tidak jarang anak-anak tersebut terpaksa putus sekolah.  Bekerja di usia dini ini menimbulkan dampak negatif pada perkembangan fisik, mental, dan intelektual mereka. Untuk menaggulangi masalah tersebut maka pemerintah dan beberapa pihak yang peduli terhadap masalah ini membuat beberapa program seperti, PKH, BOS dan orang tua asuh.

3.2 Saran

Pemerintah terus berusaha untuk meningkatkan program PKH dan BOS yang sudah ada. Adakan evaluasi pada program-program tersebut. Selain itu program pengentasan kemiskinan berupa program-program yang membuat masyarakat lebih produktif lagi, bukan hanya sekedar memberi mereka bantuan-bantuan yang justru membuat mereka bergantung pada pemerintah.


Daftar Pustaka

Daliyo, et all. 1999. Child Labour And Education Planning in Nusa Tenggara Barat And   Nusa Tenggara Timur. Jakarta: PPT-LIPPI.

Pemerintah Republik Indonesia-Unicef.1989. Rangkuman Analisa Situasi Anak dan Wanita          di Indonesia. Indonesia: BAPPENAS.

Pusat Penelitian Sosisl Ekonomi Peranian. 1995. Kemiskinan Pedesaan : Masalah dan Alternatif Penanggulangan. Bogor : IPB

Suryabrata Sumardi. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Unicef. 1988. Rangkuman Laporan Penelitian Tentang Anak Indonesia.editor:Simantjuntak          Melling.Jakarta: PDII-LIPI.

Abidin Fadil. 31 Desember 1989. Kemiskinan dan Hak Anak .         www.analisadaily.com/index.php?…kemiskinan-dan-hak-anak29 Desember 2009.

Ritonga Hamonangan. Mengapa Kemiskinan di Indonesia masih menjadi masalah berkelanjutan. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/10/ekonomi/847162.htmkal. 29 Desember 2009.

Winsolu. 15 Mei 2008. Penurunan Jumlah Kemiskinan di Indonesia.             http://winsolu.wordpress.com/2008/05/15/penurunan-jumlah-kemiskinan-di-indonesia29 Desember             2009.


[1] Pemerintah Republik Indonesia dan Unicef. Rangkuman analisis anak dan wanita di Indonesia. ( Indonesia: BAPPENAS) hal 7.

[2] Agus Pakpahan dkk dalam Hermanto dkk, Kemiskinan di Daerah Pedesaan : Masalah dan Penanggulanagnnya. (Bogor: IPB press, 1995) hal 2.

[3] Hamonangan Ritong, Kepala dubit pada direktorat anlisis statistik,Badan Pusat Statistik.Mengapa Kemiskinan di Indonesia masih menjadi masalah berkelanjutan. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/10/ekonomi/847162.htmkal. diakses tanggal 29 Desember 2009.

[4] Winsolu.  15 mei 2008.  Penurunan Jumlah Kemiskinan di Indonesia. Penurunan Jumlah Kemiskinan di Indonesia. Sumber: HTI online. Diakses pada tanggal 29 Desember 2009

[5] .Ibid

[6] Sumardi. Psikologi Pendidikan. (Jakarta: UI press, 2000)

[7] ibid

[8] Fadil Abidin. Kemiskinan dan Hak Anak.

[9] Universitas Ujung Pandang, Melling Simantjuntak (editor). Rangkuman Laporan Penelitian Anak Indonesia. (Jakarta: PDII-LIPPI, 1983) P 101

[10] Fadil Abidin. Op.cit.

About these ads
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.